Berawal dari kekagumanku melihat kemampuanmu. Berlanjut kepada sikapmu yang jarang laki-laki memilikinya. Keta’atanmu untuk bersimpuh kepada sang pemilik alam, membuat dada ini bergetar.
Hanya senyum
yang mewakili perasaan ini saat melihat mu. Tidak untuk diceritakan. Aku masih
bisa menyimpan rapih rasa ini.
Hari semakin
berlalu, ternyata senyum mengeluh dan tidak sanggup untuk mewakili perasaan
ini. Begitu bergejolak kah, hingga senyum tidak sanggup lagi untuk menahan
getaran hati dan air mata gembira ini?
Sejujurnya,
melihat mu adalah hadiah favourite yang selalu aku nantikan setiap harinya. Namun
kau tak pernah tau. Entah sampai kapan.
Aku memilih
untuk menjadi pengagum rahasia mu. Yang tidak lain kerjaannya hanya
memperhatikan dan mendoakan mu disela sela ibadah ku.
Kalau dipikirkan,
masih ada saja orang seperti ku. Menutupi perasaannya namun berharap untuk bisa
dekat. Bintang pun lelah setiap malam mendengar cerita konyol ini. Tapi apa
daya, hanya ini yang bisa aku lakukan.
Khayal tak pernah
pergi dari pikiranku. Hanya dia saja yang menjadi topik utama. Sudah berapa
banyak judul khayalan yang terputar saat sepi menyerang? Ratusan? Ribuan? Aku tidak
peduli. Karna, dia tidak akan pernah tau isi hati ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar